SEMUA TENTANG MEDAN
 

4 Fakta Alfimer, Teknologi Pengolah Sampah di TPA Terjun Marelan Kota Medan

Minggu, 04 Juli 2021
PENULIS Editor    SOURCE Suara.com    EDITOR Ananda M. Firdaus
Wali Kota Medan Bobby Nasution saat diwawancarai usai melaunching pengelolaan sampah bio teknologi di TPA Terjun Marelan, Sabtu (3/7/2021). [Budi Warsito/Suara.com]  

MEDAN MARELAN, AYOMEDAN.ID -- Pemerintah Kota Medan menerapkan teknologi Alfimer (Advanced Land Fill Mining With Material & Energy Recovery) untuk mengatasi permasalahan sampai di kotanya.

Penerapan teknologi pengolahan sampah Alfimer dilakukan di TPA Terjun Marelan, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.

Lalu bagaimana cara kerja pengolah sampah Alfimer di TPA Terjun Marelan?

Berikut faktanya, sebagaimana dirangkum dari Suarasumut.id (jaringan Ayomedan.id).

Pertama di Indonesia

Teknologi pengolah sampah Alfimer disebut baru pertama kali diterapkan di Indonesia, dan Kota Medan sebagai daerah pertama yang mengadopsinya.

Tenaga Ahli Pendamping Teknologi Alfimer DR Muhammad Yani dari PT Mitra Biosis Ekoteknik (MBE) mengatakan, sejumlah negara di Asia sudah menerapkan teknologi ini.

Di antaranya seperti Thailand, Malaysia, Fiji, Kamboja, dan India. 

"Alfimer itu dari Bahasa Thailand, maknanya is the best teknologi. Teknologi ini bukan lagi penelitian tetapi sudah penerapan di Kota Medan," kata dia, Sabtu, 3 Juli 2021

Yani mengklam, teknologi Alfimer bisa membuat sampah yang menggunung hilang dalam kurun waktu empat tahun. 

"Teknologi ini mengolah sampah yang selama ini menjadi beban menjadi peluang yang bagus ke depannya. Teknologi yang kita gunakan ini banyak orang bilang teknologi mikroba, sebenarnya bukan," katr dia.

Cara Kerja Alfimer

Timbunan sampah di TPA Terjun diolah menjadi pupuk organik, cairan sejenis disenfektan, pupuk cair, RDF (refused drived fuel) atau bahan bakar untuk industri dan SRF (refused drived fuel) dengan kehadiran teknologi Alfimer.

Alfimer  menggunakan gabungan bioteknologi upstream yang diinvensi dan diinovasi oleh One Biosyis. Dengan begitu mengurai masalah sampah domestik dengan sistem yang lebih efektif, murah, ramah lingkungan, dan mudah guna.

"Teknologi Alfimer ini akan menghilangkan TPA dan terkelola sampah baru serta teratasinya masalah sampah liar. Jadi proses kita agak terbalik, biasanya sampah harus dipisah dulu. Tetapi dalam teknologi ini tidak. Apa yang masuk itu kita treatmen, setelah itu akan terurai dengan sendirinya," kata Yani.

Yani menyebut, Alfimer sudah mendapatkan sertifikasi internasional dan negara lain berhasil menuntaskan masalah sampahnya.

"Sekarang kita bisa buat lima ribu ton per hari. Dua ribu ton dari sampah baru dan tiga ribu ton dari sampah lama," sebutnya.

Bisa Diterapkan di Tempat Lain

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan M Husni menyebut, penggunaan sistem bio teknologi bisa diterapkan di Pasar Induk Lau Cih dan Taman Cadika.  

Semua sampah-sampah pemotongan pohon dijadikan pupuk melalui sistem bio teknologi. Lalu ke depan, TPA Namo Bintang bakal dikelola Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS).

"Di Pasar Induk, sampahnya bahkan tidak sampai ke TPA dengan menggunakan teknologi ini. Kita berharap nantinya pengolahan sampah sudah dari hulu dan hilirnya," harap dia.

Alat pengolah sampah Alfimer, kata Husni, merupakan yang paling efisien dari pengolahan sampah.

Bantu Pertanian di Sumut

Proyek ini selain kerjasama Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Medan dengan MBE selaku pemegang teknologi, juga melibatkan PKPS serta Universitas Sumatera Utara (USU) yang diproyeksikan membantu membuat studi kelayakan dan naskah akademik.

"Pupuk hasil dari pengolahan sampah dengan menggunakan sistem bio teknologi sudah diuji. Nutrisinya sudah ada dan logam beratnya sudah tidak ada sehingga sangat aman untuk digunakan industri pertanian," kata Husni. 

"Kalau sudah dalam skala besar, harapan Pak Wali Kota Medan pupuk yang dihasilkan bisa menunjang sektor pertanian di Sumut, mungkin juga nasional," ujar dia. 

Dalam pengolahannya dibutuhkan waktu tujuh sampai delapan hari. Sampah-sampah di-windrow terlebih dahulu, lalu di-treatment dengan alat pengolah bio teknologi ini. 

Selanjutnya, diayak untuk memilah mana yang menjadi pupuk dan mana menjadi RDF ataupun SRF. 

Kekinian ada 14 ton pupuk sudah dihasilkan. Di mana dari 2 ton sampah akan menghasilkan 1.000 ton pupuk. 

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT