SEMUA TENTANG MEDAN
 

WHO, FDA, dan BPOM Masih Ragukan Khasiat Ivermectin Tangani Covid-19

Kamis, 24 Juni 2021
PENULIS Editor    SOURCE Suara.com    EDITOR Ananda M. Firdaus
Menteri BUMN Erick Thohir merekomendasik ivermectin untuk obat terapi Covid-19. (Antara)  

JAKARTA, AYOMEDAN.ID -- Beberapa waktu lalu Menteri BUMN Erick Thohir merekomendasikan Ivermectin untuk membantu penanganan Covid-19, tepatnya untuk obat terapi. Bahkan Erick mengklaim, obat itu siap diproduksi massal oleh PT Indofarma.

Ivermectin sendiri dikenal sebagai obat yang digunakan untuk mengatasi parasit, seperti masalah infeksi cacing. Sementara di sejumlah negara, seperti Amerika dan Slovakia, obat ini telah digunakan untuk penanganan Covid-19.

Soal penggunaan di kedua negara itu disinggung Erick dalam suratnya kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait penerbitan izin penggunaan darurat.

BPOM sendiri masih belum merekomendasikan ivermectin untuk terapi ataupun pengobatan Covid-19.

BPOM mengatakan bahwa Ivermectin kaplet 12 mg terdaftar di Indonesia untuk indikasi infeksi kecacingan (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis).

"Data uji klinik yang cukup untuk membuktikan khasiat Ivermectin dalam mencegah dan mengobati COVID-19 hingga saat ini belum tersedia. Dengan demikian, Ivermectin belum dapat disetujui untuk indikasi tersebut," kata BPOM dalam pernyataannya, Selasa, 22 Juni 2021, mengutip Suara.com.

Malah pada hari itu, Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan langsung, bahwa Ivermectin merupakan obat keras, yang pemberiannya harus berdasarkan resep dokter, karena ada efek samping yang mengintai.

"Ivermectin yang digunakan tanpa indikasi medis dan tanpa resep dokter dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan efek samping, antara lain nyeri otot, nyeri sendi, ruam kulit, demam, pusing, diare, penyakit, dan Sindrom Stevens Johnson (kelainan langka pada kulit)," ujar Penny.

Namun Penny tak menafikan, Ivermectin berpotensi jadi obat antivirus, dengan cara menghambat replikasi virus SARS CoV 2. Tapi hingga kini, obat ini belum diujicoba pada manusia.

Penny juga menerangkan jika saat ini akses mendapatkan Ivermectin ini bisa melalui platform online, namun ini bukanlah obat yang dijual bebas dan harus melalui resep dokter, karena efek samping berbahaya yang disebabkan.

"Masyarakat yang mendapatkan resep dokter untuk Ivermectin agar membeli di fasilitas pelayanan kefarmasian yang resmi, seperti apotek dan rumah sakit," terang Penny.

Lebih lanjut, sebelum diproduksi massal Ivermectin juga masih dalam pengawasan dan penelitian untuk memastikan khasiat dan keamanan penggunaan Ivermectin dalam pengobatan Covid-19 di Indonesia.

"Dilakukan uji klinik di bawah koordinasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), serta Kementerian Kesehatan RI dengan melibatkan beberapa Rumah Sakit," imbuhnya.

Bukan hanya BPOM yang belum merekomendasikan, Food and Drug Administration (FDA) atau BPOM Amerika Serikat juga tidak menyetujui penggunaan ivermectin untuk pasien Covid-19.

"FDA belum menyetujui ivermectin untuk digunakan dalam mengobati atau mencegah Covid-19 pada manusia. Tablet ivermectin disetujui pada dosis yang sangat spesifik untuk beberapa cacing parasit, dan ada formulasi topikal (pada kulit) untuk kutu kepala dan kondisi kulit seperti rosacea. Ivermectin bukan anti virus (obat untuk mengobati virus)," kata badan kesehatan itu dalam situs resminya.

FDA menambahkan, bahwa mengambil dosis besar obat ini berbahaya dan dapat menyebabkan bahaya serius. Mereka mengatakan bahwa jika memiliki resep ivermectin untuk penggunaan yang disetujui FDA, dapatkan dari sumber yang sah dan gunakan persis seperti yang ditentukan.

"Jangan pernah menggunakan obat yang ditujukan untuk hewan pada diri Anda sendiri. Persiapan ivermectin untuk hewan sangat berbeda dari yang disetujui untuk manusia," kata FDA.

Sedangkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam situs resminya mengatakan bahwa bukti saat ini tentang penggunaan ivermectin untuk mengobati pasien Covid-19 tidak dapat disimpulkan.

Sampai lebih banyak data tersedia, WHO merekomendasikan bahwa ivermectin tersebut hanya digunakan dalam uji klinis.

Rekomendasi ini, yang berlaku untuk pasien Covid-19 dengan tingkat keparahan penyakit apa pun, sekarang menjadi bagian dari pedoman WHO tentang perawatan Covid-19.

Ivermectin adalah agen anti-parasit spektrum luas, termasuk dalam daftar obat esensial WHO untuk beberapa penyakit parasit. Ini digunakan dalam pengobatan onchocerciasis (buta sungai), strongyloidiasis dan penyakit lain yang disebabkan oleh cacing yang ditularkan melalui tanah. Ini juga digunakan untuk mengobati kudis.

WHO juga mengatakan bahwa sebuah kelompok pengembangan pedoman diadakan sebagai tanggapan atas meningkatnya perhatian internasional pada ivermectin sebagai pengobatan potensial untuk Covid-19.

Kelompok ini adalah panel ahli internasional yang independen, yang mencakup ahli perawatan klinis dalam berbagai spesialisasi dan juga termasuk ahli etika dan mitra pasien.

Kelompok tersebut meninjau data yang dikumpulkan dari 16 uji coba terkontrol secara acak (total terdaftar 2407), termasuk pasien rawat inap dan pasien rawat jalan dengan Covid-19.

Mereka menentukan bahwa bukti ivermectin mengurangi kematian, kebutuhan ventilasi mekanis, kebutuhan masuk rumah sakit dan waktu untuk perbaikan klinis pada pasien Covid-19 sangat rendah. Ini karena ukuran kecil dan keterbatasan metodologis dari data percobaan yang tersedia , termasuk sejumlah kecil acara.

Panel tidak melihat penggunaan ivermectin untuk mencegah Covid-19, yang berada di luar cakupan pedoman saat ini.

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT