SEMUA TENTANG MEDAN
 

Bacaan Doa Sahur Puasa Ramadhan dan Niat Puasa Ramadhan 2021

Senin, 05 April 2021
PENULIS A. Dadan Muhanda    EDITOR A. Dadan Muhanda
Ilustrasi doa niat saur puassa ramadhan 2021  

AYOMEDAN.ID--Sahur merupakan salah satu rukun puasa dan didalamnya disarankan membaca doa sahur atau niat puasa ramadhan. Bulan puasa 2021 pada 1 Ramadan 1442 Hijriyah akan jatuh pada 13 April 2021. Dalam menyambut Bulan puasa 2021, ada baiknya mengingat kembali dan menghafal berbagai bacaan lafal niat puasa 2021 atau Ramadan 1442 Hijriyah.

Dilansir islam.nu.or.id, bacaan niat puasa sebenarnya wajib di lafalkan dalam hati pada malam hari seperti puasa Ramadhan, puasa nazar, dan qadha. Sebab bacaan dan niat puasa merupakan kewajiban yang menentukan keabsahan puasa seseorang menurut Mazhab Syafi’i.

Adapun pelafalan niat puasa sangat dianjurkan. Berikut ini adalah beberapa redaksi lafal niat puasa yang dapat dibaca oleh mereka yang terkena kewajiban puasa 2021 atau Ramadhan 1442 Hijriyah.

Bacaan Niat Puasa Ramadhan 1442 hIJRIYAH

 1. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

 

NAWAITU SHAUMA GHADIN ‘AN ADĀ’I FARDHI SYAHRI RAMADHĀNA HĀDZIHIS SANATI LILLĀHI TA‘ĀLĀ

Artinya,

“Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

Kata “Ramadhana” dianggap sebagai mudhaf ilaihi sehingga diakhiri dengan fathah yang menjadi tanda khafadh atau tanda jarrnya.

Sedangkan kata “sanati” diakhiri dengan kasrah sebagai tanda khafadh atau tanda jarr dengan alasan lil mujawarah

 

2. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةَ لِلهِ تَعَالَى

NAWAITU SHAUMA GHADIN ‘AN ADĀ’I FARDHI SYAHRI RAMADHĀNA HĀDZIHIS SANATA LILLĀHI TA‘ĀLĀ

Artinya,

“Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

Kata “Ramadhana” dianggap sebagai mudhaf ilaihi sehingga diakhiri dengan fathah yang menjadi tanda khafadh atau tanda jarrnya. Sedangkan kata “sanata” diakhiri dengan fathah sebagai tanda nashab atas kezharafannya.

 

3. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

NAWAITU SHAUMA GHADIN ‘AN ADĀ’I FARDHI SYAHRI RAMADHĀNI HĀDZIHIS SANATI LILLĀHI TA‘ĀLĀ

Artinya, “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

Kata “Ramadhani” dianggap sebagai mudhaf ilaihi yang juga menjadi mudhaf sehingga diakhiri dengan kasrah yang menjadi tanda khafadh atau tanda jarrnya.

Sedangkan kata “sanati” diakhiri dengan kasrah sebagai tanda khafadh atau tanda jarr atas badal  kata "hādzihi" yang menjadi mudhaf ilaihi dari "Ramadhani".  

4. نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ

NAWAITU SHAUMA RAMADHĀNA

Artinya, “Aku berniat puasa bulan Ramadhan.”

 

5. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ/عَنْ رَمَضَانَ

NAWAITU SHAUMA GHADIN MIN/'AN RAMADHĀNA

Artinya, “Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan.”  

 

6. نَوَيْتُ صَوْمَ الْغَدِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ عَنْ فَرْضِ رَمَضَانَ

NAWAITU SHAUMAL GHADI MIN HĀDZIHIS SANATI ‘AN FARDHI RAMADHĀNA

Artinya, “Aku berniat puasa esok hari pada tahun ini perihal kewajiban Ramadhan.”

Perbedaan redaksi pelafalan ini tidak mengubah substansi lafal niat puasa Ramadhan. Redaksi (1) dikutip dari Kitab Minhajut Thalibin dan Perukunan Melayu. Redaksi (2) dan (6) dinukil dari Kitab Asnal Mathalib. Redaksi (3) dikutip dari Kitab Hasyiyatul Jamal dan Kitab Irsyadul Anam. Sedangkan redaksi (4) dan (5) diambil dari dari Kitab I’anatut Thalibin.  

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT