SEMUA TENTANG MEDAN
 

Banyak Anak Muda Direkrut Jadi Teroris via Internet

Selasa, 30 Maret 2021
PENULIS suara.com    EDITOR Ananda M. Firdaus
ilustrasi Densus 88 (Antaranews)  

JAKARTA, AYOMEDAN.ID -- Banyak anak muda yang direkrut oleh para kelompok teroris melaui media internet. Iming-iming masuk ke surga dengan bom bunuh diri jadi salah satu dalih perekrutan. 

Melansir Suara.com (jaringan Ayomedan.id), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan bahwa pelaku pengeboman bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, yang berinisal L adalah seorang pemuda kelahiran 1995.

Ia dan istrinya berusaha memasuki gereja sebelum meledakkan diri, mengakibatkan 20 orang di wilayah gereja itu luka-luka.

Boy Rafli menyebut anak-anak muda adalah target khas dari kelompok teroris. "Jadi inisial L ini dengan istrinya adalah termasuk kalangan milenial yang sudah menjadi ciri khas korban dari propaganda jaringan terorisme," kata Boy,

Kedua pelaku itu disebut polisi bergabung Jamaah Ansharut Daulah atau JAD. Kelompok itu berafiliasi dengan kelompok yang menamai diri mereka Negara Islam atau ISIS.

Menanggapi itu, peneliti terorisme dari Universitas Malikussaleh Aceh, Al Chaidar, mengatakan sejak empat tahun belakangan, kelompok terorisme JAD kerap mengincar anak-anak muda.

AYO BACA: Populasi Harimau dan Gajah Sumatera Tinggal Ratusan 

Yang diincar, katanya, bukan dari pesantren, tapi pengguna internet. "Yang direkrut kebanyakan anak muda, milenial baru, yang dianggap masih bersih tanpa ada pengaruh NU atau Muhammadiyah. Mereka-mereka yang cenderung kosong secara keagamaan, kering secara spiritual.

"Kebanyakan mereka menggunakan media sosial, mereka membahas tentang jihad dan makna mati syahid supaya bisa masuk surga. Mereka tawarkan shortcut to heaven, jalan pintas ke surga," kata Al Chaidar.

AYO BACA: Peran Para Terduga Teroris yang Diringkus Polisi di Jakarta dan Bekasi 

Menurutnya, pemerintah perlu menambahkan sumber daya untuk melakukan pengawasan di internet untuk mencegah perekrutan teroris melalui media sosial maupun aplikasi berbagi pesan.

"Saat ini belum efektif. Masih overload pekerjaan pemerintah. Perlu lebih banyak orang lagi untuk melakukan pengawasan," ujarnya.

Terkait itu, Kepala BNPT Kombes Boy Rafli, mengatakan pihaknya akan terus berupaya untuk mengatasi konten-konten radikal di media sosial.

Boy menambahkan literasi dan edukasi digital bagi generasi milenial sangat diperlukan agar mereka tidak terlibat dalam gerakan radikal.

AYO BACA: Pelaku Bom Bunuh Diri di Makassar Pasangan Suami Istri, Diduga Jaringan JAD 

Siapa perekrutnya?
Al Chaidar mengatakan yang melakukan perekrutan di antaranya adalah mantan teroris, seperti mereka yang kembali atau dideportasi dari Suriah, juga ulama-ulama muda yang disebutnya penganut wahabi takfiri atau anti terhadap mereka yang non-Muslim.

Selain itu, Al Chaidar mengatakan, bekas narapidana yang tidak megalami proses deradikalisasi aktif melakukan perekrutan sekeluarnya dari penjara.

"Hampir 90 persen dari mereka (yang dipenjara) tak mau terderadikalisasi. Mereka melakukan rekrutmen yang sangat aktif melalui media sosial," katanya.

AYO BACA: Bom di Makassar, Kapolda Sumut Intruksikan Pengetatan Keamanan Markas

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT