SEMUA TENTANG MEDAN
 

Kurang Dibekali, Nelayan Indonesia Kerap Diculik Kelompok Teroris

Selasa, 23 Maret 2021
PENULIS Icheiko Ramadhanty    SOURCE Ayojakarta.com    EDITOR Ananda M. Firdaus
ilustrasi -- Kementerian Luar Negeri baru saja membebaskan empat WNI korban sandera kelompok militan dan bersenjata, Abu Sayyaf Grup (ASG). Seorang WNI berinisial MK (laki-laki, 14 tahun), merupakan WNI yang terakhir diselamatkan pada Minggu (21/3/2021), menyusul tiga lainnya yang telah diselamatkan pada Kamis (18/3/2021). (Ayomedan.id/Kavin Faza)  

JAKARTA, AYOMEDAN.ID -- Kementerian Luar Negeri baru saja membebaskan empat WNI korban sandera kelompok militan dan bersenjata, Abu Sayyaf Grup (ASG). Seorang WNI berinisial MK (laki-laki, 14 tahun), merupakan WNI yang terakhir diselamatkan pada Minggu (21/3/2021), menyusul tiga lainnya yang telah diselamatkan pada Kamis (18/3/2021).

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Luar Negeri, operasi gabungan aparat keamanan Filipina berhasil mendesak posisi kelompok ASG dalam kontak senjata dan kemudian menyelamatkan MK pada saat ASG mencoba melarikan diri.

AYO BACA: Jubir Satgas Covid-19: Sumut Bebas Zona Merah 
AYO BACA: Presiden Minta Masalah All England Diselesaikan dengan Baik 

Kejadian penculikan WNI oleh ASG ini kerap terjadi dan berulang. Berdasarkan penjelasan Dirjen Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha, mayoritas kejadian penculikan ada di perairan Sabah dan kemudian dibawa ke Filipina Selatan.

Praktisi dan Pengajar Hubungan Internasional Synergy Policies Dinna Prapto Raharja, membenarkan hal ini memang kerap terjadi menimpa para nelayan Indonesia. Di satu sisi, kata dia, memang terdapat wilayah yang sangat rentan adanya penculikan oleh ASG karena daerah tersebut memang 'daerah operasi' milik mereka. 

Namun Dinna juga melihat adanya nelayan yang lalai melewati wilayah tersebut atau tidak sengaja melintasi wilayah yang disinyalir menjadi kekuasaan ASG. 

"Yang saya tahu, sudah ragam upaya dilakukan. Bukan hanya mendorong aparat Malaysia dan Filipina untuk mengawasi perairannya, tetapi juga melakukan patroli bersama di wilayah itu. Namun namanya juga kegiatan kriminal, bisa terjadi kapanpun," ujar Dinna saat diminta keterangan oleh Ayojakarta.com, Selasa (23/3/2021).

AYO BACA: Hasil Eliminasi: Melisa Terhenti dari Top 4 Indonesian Idol Tadi Malam
AYO BACA: Bikin Keramaian, Sejumlah Warkop di Medan Kota dan Maimun Ditertibkan

Lantas, apa yang seharusnya dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk memberhentikan kejadian berulang serupa? Menurutnya, Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah melakukan pendekatan sosial ke aparat Filipina dan ke kelompok bersenjata tersebut agar para individu yang berafiliasi dengan teroris itu bisa beralih profesi.

"Mungkin yang bisa ditingkatkan adalah pembinaan ke para nelayan Indonesia dari daerah-daerah yang biasanya melintasi perairan tersebut saat bekerja agar lebih hati-hati menjaga diri. Supaya tidak melalui wilayah rawan teroris dan diberikan pembekalan cara-cara menghadapi penyanderaan," jelasnya.

Sebelumnya, Dirjen Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha mengatakan pengamanan ketat oleh aparat keamanan Malaysia di wilayah Sabah menjadi kunci utama langkah pencegahan penculikan nelayan WNI.

“Selanjutnya para pemilik kapal juga wajib mematuhi ketentuan berlayar dan tidak mencari ikan di wilayah yang rawan penculikan,” jelas Judha saat dimintai keterangan oleh Ayojakarta.com, Senin (22/3/2021).

AYO BACA: Arti Mimpi Ciuman, Baik dari Letak dan Sosok yang Dicium
AYO BACA: PDAM Tirtanadi Medan: Lonjakan Tarif Karena Ada Perubahan Sistem ke Android

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT