SEMUA TENTANG MEDAN
 

Mengenal Kelainan Penyakit Hipospadia pada Aprilia Manganang

Rabu, 10 Maret 2021
PENULIS Redaksi AyoBandung.Com    SOURCE Republika.co.id    EDITOR A. Dadan Muhanda
Aprilia Manganang mengidap kelainan Hipospadia (Istimewa)  

AYOMEDAN.ID--Di Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada April 1992 lahir seorang bayi pria dengan kondisi berbeda dengan anak laki-laki lainnya. Dia memiliki kelainan pada sistem reproduksinya atau biasa disebut dengan istilah hipospadia.

Seorang yang mengalami hipospadia memiliki uretra atau lubang kencing di posisi yang tidak semestinya. Urology Care Foundation menyatakan, lubang uretra anak yang memiliki hipospadia tidak hanya berada di tempat yang salah, tetapi juga kulup penis bisa tidak sepenuhnya terbentuk.

Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention, setidaknya lima dari 1.000 bayi laki-laki yang dilahirkan mengalami hipospadia. Anak laki-laki dari Tahuna itu menjadi salah satunya dan dia mengalami hipospadia serius, situasi yang lebih langka lagi jika dibandingkan dengan hipospadia biasa.

Anak laki-laki itu kemudian diberi nama Aprilia Manganang, nama seorang anak perempuan. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh perkebunan dan ibunya sebagai asisten rumah tangga tak tahu-menahu mengenai kondisi anaknya tersebut dan mengira anaknya memang perempuan. Tenaga medis di Tahuna saat itu pun berpandangan demikian.

Manganang mengira dirinya sebagai seorang perempuan meski kondisi badannya berbeda dengan perempuan pada umumnya dalam tumbuh kembangnya. Akibat perbedaan penampilan itu, dia kerap diolok oleh teman sebayanya kala itu.

Saat beranjak dewasa, dia menjadi seorang atlet bola voli wanita. Prestasinya tidak main-main, dia membela tim nasional bola voli Indonesia dalam ajang internasional, salah satunya pada Sea Games 2018 lalu.

Pada 2016, TNI Angkatan Darat (AD) membuka perekrutan lewat jalur prestasi. Manganang pun mendapatkannya atas prestasi yang ia sabet semasa menjadi atlet.

"Lihat prestasi dari anak ini. Itulah mengapa TNI AD saat itu memutuskan merekrut Aprilia dalam program rekrutmen khusus bintara berprestasi. Aprilia direkrut jadi TNI AD," ungkap Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Andika Perkasa, di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat, Selasa (9/3).

Dengan situasi belum mengetahui apa yang terjadi di tubuhnya, Manganang kemudian tercatat menjadi anggota Korps Wanita AD (Kowad). Dia kini berpangkat Sersan Dua dan bertugas di Manado, Sulawesi Utara. Andika menjelaskan, dalam perkembangannya, satuannya melihat dan mengamati Manganang.

Hingga akhirnya dilakukan pemeriksaan terhadap Manganang pada 3 Februari 2021 lalu di Manado. Namun, karena keterbatasan alat pemeriksaan, Andika memanggilnya dan menawarkan bantuan untuk pemeriksaan lebih lanjut kepada Manganang.

"Saya konsultasi, tawarkan apa yang bisa kami bantu untuk dia. Akhirnya, Sersan Manganang rupanya menyambut dengan excited. Ini yang ditunggu-tunggu (oleh Manganang)," kata Andika menjelaskan.

Setelah itu, dia kemudian mengerahkan tim dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto untuk melakukan pemeriksaan secara lengkap. Manganang kemudian diperiksa dengan seluruh fasilitas kesehatan yang memang diperlukan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Dari pemeriksaan lengkap itu diketahui, berdasarkan urologi atau pengetahuan tentang saluran kemih, Manganang lebih memiliki organ jenis kelamin laki-laki. Pun demikian, secara hormon, dia diketahui memiliki hormon dengan kategori laki-laki.

"Tak ada organ internalnya menunjukkan jenis kelamin wanita.  Hormonal juga begitu, hormon normal, testosteronnya juga diukur sehingga secara faktual dan ilmiah kita yakin Manganang lebih miliki hormonal kategori normal laki-laki," kata Andika.

Lalu, hasil pemeriksaan itu disampaikan kepada Manganang. Dari kasus yang dialami oleh Manganang, yakni hipospadia serius, maka langkah operasi korektif atau corrective surgery harus dilakukan. Operasi korektif itu harus dilakukan sebanyak dua kali.

Saat konferensi pers dilaksanakan, Andika menampilkan kondisi terkini Manganang di RSPAD Gatot Soebroto. Manganang tampak masih berada di atas kasur rumah sakit dengan didampingi kedua orang tuanya, istri Andika, dan wakil kepala RSPAD Gatot Soebroto. Manganang baru melalui operasi pertamanya.

"Saat ini dia masih recovery. Operasi sudah selesai dan berjalan sesuai rencana, tapi belum bisa keluar rumah sakit," kata Andika.

Operasi Korektif
Operasi telah dilakukan terhadap Manganang. Langkah berikutnya ialah mengurus status administrasi yang ia miliki selama ini dan mengubah status jenis kelaminnya menjadi laki-laki. Andika juga akan membahas mengenai tugas yang akan diberikan kepada Manganang.

"Manganang masuk TNI AD dia jadi bintara komunitas ajudan jendral. Dengan kondisi ini, saya dengan staf akan melakukan evaluasi untuk memberi tugas yang pas," tutur Andika.

Menurut Andika, ada dua kemungkinan besar ke mana Manganang akan berlabuh. Pertama, dalam bidang perbekalan dan angkutan. Kedua, dalam bidang kesehatan. Namun, pihaknya juga akan memperhatikan minat Manganang dalam menentukan tugas dia berikutnya.

"Dirhum Angkatan Darat sudah menyiapkan dokumen untuk kita membantu Sersan Manganang mendapat apa yang diinginkan, yaitu kita penuhi semua surat yang ada di UU 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan," kata dia menjelaskan.

Andika berharap Pengadilan Negeri Tondano akan memberikan dan menetapkan perubahan nama dan status jenis kelamin Manganang. Dia pun berharap Manganang akan menjadi seseorang yang memang sudah ditakdirkan untuk dirinya sendiri.

Kemudian, Andika kembali memberikan penegasan dengan menyatakan Manganang bukan transgender maupun interseks. Dia dan tim dokter TNI AD telah memastikan hal tersebut melalui pemeriksaan lengkap di RSPAD Gatot Soebroto beberapa waktu lalu.

"Kami juga tidak ingin rekayasa. Makanya, kita gunakan mekanisme scientist cukup bagus fasilitas kesehatan kami. Dari situ kami berangkat setelah ditemukan, kita jelaskan," kata dia.

Manganang yang masih berada di atas kasur rumah sakit diberikan kesempatan untuk berbicara. Dia menggunakan waktu berbicaranya dengan mengucap banyak rasa syukur. Dia juga berterima kasih kepada Andika yang telah memperjelas apa yang selama ini ia rasakan.

"Saya sangat bahagia selama 28 tahun saya menunggu keinginan saya dan akhirnya tahun ini tercapai. Izin, terima kasih, Bapak (Andika)," kata Manganang yang berbicara melalui siaran virtual.

Memahami Hispopadia
Dikutip dari laman Rumah Sakit Universitas Indonesia, hispopadia merupakan kelainan yang jumlah kasusnya bervariasi di tiap negara. Prevalensinya adalah satu dibanding 250-300 kelahiran anak laki-laki.

Kemungkinan hispopadia meningkat 13 kali lebih sering pada laki-laki yang saudara dan orang tuanya menderita hipospadia. Hipospadia terjadi ketika perkembangan saluran lubang kemih dan kulit penis terganggu waktu di dalam kandungan. Belum diketahui apa penyebab pastinya.

Secara klinis hipospadia yang sering ditemukan ada tiga macam. Pertama, lubang penis yang terletak pada bagian bawah penis, kedua penis yang menekuk ke arah bawah, dan ketiga kulit penis yang berlebihan di bagian atas penis, meskipun tidak selalu dijumpai pada setiap kasus hipospadia.

Diagnosis penyakit bawaan ini utamanya dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang lainnya akan dilakukan sesuai indikasi.

Terapi pembedahan merupakan satu-satunya pilihan terapi dan direkomendasikan untuk bentuk hipospadia sedang dan berat. Pada hipospadia ringan dengan derajat tekukan pada penis yang berat dan lubang penis yang sempit. Tujuan terapi adalah untuk mengoreksi tekukan pada penis, membentuk saluran kemih, dan menempatkan lubang penis ke ujung jika memungkinkan.

Operasi dapat mulai dikerjakan saat usia anak enam bulan bulan dan diharapkan operasi selesai sebelum usia sekolah. Bila tidak dilakukan operasi rekonstruksi, hipospadia dapat menimbulkan masalah berkemih pada anak, serta dapat mengganggu aktivitas seksualnya saat ia tumbuh dewasa.

 

TAG TERKAIT

BERITA TERKAIT